4 Ketentuan Haji Bagi Wanita

4 Ketentuan Haji Bagi Wanita

4 Ketentuan Haji Bagi Wanita

4 Ketentuan Haji Bagi Wanita
4 Ketentuan Haji Bagi Wanita

Keempat

Dalam perjalanan menuju haji, jika wanita itu tiba- tiba haid atau nifas, maka hendaknya melanjutkan perjalanannya. Jika datangnya haid saat akan berihram, ia tetap berihram sebagaimana lelaki. Karena, ihram adalah nusuk (amalan di dalam haji maupun ‘umrah), meskipun bagi wanita haid , maupun nifas. Hal ini berdasarkan hadits Jabir:

Sesampainya kami di Dzul Hulaifah, Asma’ binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar. Maka Umais menyuruh seseoranq (bertanya) kepada Rasulullah Saw. “Apa yang harus kuPerbuat?” Beliau menjawab, “Mandilah dan ikatkanlah kain di bagian vagina antara kedua paha (untuk menahan darah) dan berihramlah “.

Dari Ibn ‘Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Wanita nifas dan wanita haid, jika sampai di miqat, hendaknya ia mandi dan berihram, selanjutnya melakukan semua amalan haji selain thawaf seputar Ka’bah. “

Hikmah disyari’atkannya mandi ihram bagi wanita laid maupun nifas ialah: membersihkan tubuh, menghilangkan bau yang tidak sedap agar orang lain tidak terganggu, dan meringankan najis. Jika wanita tiba-tiba laid atau nifas, padahal sedang berihram, hal itu tidak nempengaruhi ihramnya. Tetaplah ia berihram dan nenghindari larangan-larangan ihram. Ia tidak boleh hawaf seputar Ka’bah sebelum ia suci dari haid atau lifas dan mandi besar.

Jika sudah masuk hari ‘Arafah dan belum suci (dari iaid atau nifas), padahal telah berihram dengan niat tamattu’, maka langsung (di hari ‘Arafah itu) berniat berihram haji dan (pada saat akan thawaf ifadhah dan sa’i) berniat menggandengkan niat (thawaf dan sa’inya itu) untuk haji dan ‘umrah sekaligus. Dengan demikian ia berhaji qiran.

Hal ini didasarkan pada kisah ‘Aisyah , bahwasanya ia tiba-tiba haid, padahal telah berniat berihram ‘umrah (berihram tamattu). Maka Nabi Saw. menghampirinya dan ia sedang menangis, “Apa gerangan yang membuatmu menangis, barangkali kamu haid?”,”tanya beliau. “Ya”, jawabnya. Beliau bersabda: “Ini adalah sesuatu yang telah digariskan oleh Allah untuk puteri-puteri Adam. Lakukan semua amalan yang dilakukan orang yang sedang melakukan amalan haji, hanya saja jangan thawaf seputar Ka’bah sebelum suci dan mandi” (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kelima

Hal-hal yang dilakukan wanita ketika hendak berihram
Wanita melakukan seperti apa yang dilakukan lelaki. Yaitu: mandi dan membersihkan tubuh dengan mencukur rambut ketiak dan rambut bawah, memotong kuku dan menghilangkan bau tidak enak, agar tidak perlu lagi melakukan itu saat ihram, sedang hal-hal itu dilarang. Jika dipandang tidak perlu melakukan itu, tidaklah harus melakukannya. Dan, itu bukan kekhususan amalan ihram. Tidak mengapa mengenakan bahan penyegar bau untuk di tubuhnya, asalkan tidak berbau wangi. Ini berdasarkan hadis:

Dari ‘Aisyah r.a. Kami keluar bersama Rasulullah Saw., lalu kami mengoleskan minyak misk di dahi kami saat hendak berihram. Jika salah seorang dari kami berkeringat, maka mengalirlah minyak itu di wajahnya. Nabi melihat itu dan beliau tidak melarang kami.

As-Syaukani, dalam Nailul Authar, mengatakan: “Sikap diam beliau menunjukkan dibolehkannya hal itu. Karena, beliau tidak mungkin mendiamkan hal yang batil”.

Keenam

Saat berniat ihram, wanita harus melepas cadar, baik yang jenis burqu’ (cadar kuat dan tebal yang berlobang dua untuk melihat) maupun jenis niqab (cadar yang lebih tipis dari burqu’), jika mengenakannya sebelum ihram. Ini berdasarkan sabda Rasulullah “Janganlah hendaknya wanita yang berihram mengenakan cadar”. Juga hendaknya ia melepas sarung tangan, jika ia lengenakannya sebelum ihram.

Ia boleh menutup wajahnya tanpa mengenakan cadar, baik jenis burqu’ maupun niqab. Ia boleh menutup wajahnya dengan mengulurkan kerudung atau kain ke wajahnya saat dilihat lelaki yang bukan mahramnya, demikian juga ia boleh menutup kedua telapak tangannya dari pandangan mereka dengan mengenakan selain sarung tangan berjahit, yaitu cukup dengan menyarungkan atau menutupkan selendangnya ke kedua telapaknya. Hal itu karena wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutupi dari pandangan lelaki saat ihram atau di luar ihram.

Ketujuh

Saat Ihram, wanita boleh mengenakan busana wanita apapun yang disukainya, yang tidak mengandung hiasan atau perhiasan, tidak menyerupai pakaian laki-laki, tidak ketat yang dapat membentuk tubuh, dan tidak tipis menerawang, tetapi hendaknya busana itu besar, tebal dan luas.

Ibn al-Mundzir berkata: “Para ulama bersepakat (ijma’), bahwa wanita yang berihram boleh mengenakan qamis, jubah, celana lebar, kerudung dan khuff (semacam sepatu boot)”.Tidak ada ketentuan bagi wanita untuk mengenakan busana berwarna tertentu, hijau misalnya. Ia boleh mengenakan busana bertipe warna khas wanita apa pun yang disukainya, merah atau hijau atau hitam. Dan boleh juga, kalau suka, menggantinya dengan warna lain.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/