5 Ketentuan Yang Khusus Pada Wanita dalam Berhaji

5 Ketentuan Yang Khusus Pada Wanita dalam Berhaji

5 Ketentuan Yang Khusus Pada Wanita dalam Berhaji

5 Ketentuan Yang Khusus Pada Wanita dalam Berhaji
5 Ketentuan Yang Khusus Pada Wanita dalam Berhaji

Pertama

Setelah berihram, disunnahkan bagi wanita mengucap talbiyah sebatas didengar oleh telinganya sendiri. Ibn ‘Abdil Barr mengatakan: “Para ulama bersepakat (ijma’), bahwasanya yang sesuai dengan as-Sunnah untuk wanita ialah, hendaknya ia tidak mengeraskan suaranya, tetapi hendaknya cukup memperdengarkan suaranya untuk dirinya. Dimakruhkannya baginya mengeraskan suara adalah lantaran khawatir timbulnya fitnah (gangguan batin) karenanya.

Kedua

Tidak disunnahkan bagi wanita mencium maupun menyentuh Hajar Aswad, kecuali di saat sepinya tempat thawaf, di malam hari atau lainnya, karena mengundang bahaya baginya atau bagi orang lain. Disunnahkan bagi wanita thawaf di malam hari, untuk lebih menutup dirinya dan tidak terlalu berdesak-desakan. Dengan demikian, ia dapat mendekat ke Ka’bah dan menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya.

Ketiga

Thawaf dan sai wanita adalah seluruhnya dengan berjalan biasa. Ibn al-Mundzir berkata: Para ulama’ bersepakat (ijma’), bahwasanya, untuk wanita, tidak ada rami (lari kecil dengan mengangkat kaki tinggi-tinggi dengan langkah rapat) saat thawaf seputar Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwah, dan tidak disunnahkan melakukan idhthiba’ (meletakkan separuh bagian rida’ <kain ihram atas> di bawah ketiak kanan, sedang ujungnya diletakkan di atas ujung yang lain menumpang di atas pundak kiri). Karena, tujuan utama disyari’atkannya rami dan idhthiba’ adalah untuk menampakkan keperkasaan tubuh. Sementara rami dan idhthiba’ ini dapat membawa tersingkapnya tubuh bagi wanita.

Keempat

Wanita haid boleh melakukan semua amalan haji, yaitu: ihram, wuquf di ‘Arafah, mabit (mengi¬nap) di Muzdalifah dan melempar jumrah. Namun, ia tidak boleh melakukan thawaf sebelum ia suci (dan bersuci). Ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada ‘Aisyah tatkala ia haid:

“Lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang menjalankan haji, hanya saja jangan kamu thawaf di seputar Ka’bah sebelum kamu suci”. Hadits Muttafaq ‘alaih (disepakati keshahihannya oleh para ahli hadits, utamanya al-Bukhari dan Muslim).

As-Syaukani, dalam Nailul Authar, berkata: “Hadits ini jelas melarang wanita haid melakukan tha¬waf sebelum tuntas darahnya dan mandi. Sedangkan larangan itu menjadikan rusak atau batalnya (ketidaksahan) sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, thawaf wanita haid adalah batal (tidak sah). Ini adalah pendapat jumhur (keba¬jakan ulama’)”. Ia juga tidak boleh melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, karena sa’i tidak sah kecuali setelah thawaf nusuk (thawaf dalam rangkaian amalan haji. bukan sekedar thawaf sunnah biasa). Hal itu, karena Nabi Saw. tidak pernah melakukan sa’i kecuali setelah thawaf.

Kelima

Boleh bagi wanita meninggalkan Muzdalifah bersama orang-orang yang berfisik lemah setelah hilangnya rembusan dari pandangan, lalu melempar jumrah sesampainya di Mina, dengan alasan khawatir desak-desakan. Muwaffiquddin Ibn Qudamah, dalam al-Mughni, berkata: ‘Tidak mengapa mendahulukan orang-orang yang berfisik lemah dan wanita. Di antara yang pernah mendahulukan keluarganya yang berfisik lemah adalah ‘Abdur Rahman bin ‘Auf dan ‘Aisyah.

Imam as-Syaukani, dalam Nailul Authar, berkata: Dalil-dalil dari as-Sunnah menunjukkan, bahwa waktu melempar (jumrah ‘Aqabah) adalah setelah matahari terbit bagi orang yang tiada rukhshah (keringanan karena alasan syar’i) baginya. Sedangkan orang-orang yang diberi rukhshah oleh syari’at, seperti wanita dan orang-orang berfisik lemah lainnya, mereka boleh melempar sebelum itu”.

Keenam

Dalam amalan haji dan umrah, wanita cukup memotong sedikit dari rambut kepalanya seujung jari, tidak boleh mencukur bersih. Ibn Qudamah, dalam al-Mughni, berkata: “Yang disyari’atkan bagi wanita adalah memotong sedikit dari rambu kepalanya, bukan mencukur bersih. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Ibn al-Mundzir berkata: Para ulama’ bersepakat (ijma’) dalam masalah ini. Karena, bagi wanita, cukur bersih adalah suatu hukuman.

Ibn ‘Abbas meriwayatkan: Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada anjuran bagi wanita untuk mencukur bersih rambut kepalanya. Yang wajib dilakukan¬nya adalah memotongnya sedikit”.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/