Ali Bin Abi Thalib

 Ali Bin Abi Thalib

Khalifah Ali Bin Abi Thalib pun tidak jauh berbeda dengan sikap para pendahulunya dalam periwayatan hadis. Secara umum, Ali barulah bersedia menerima riwayat hadis Nabi setelah periwayat hadis yang bersangkutan mengucapkan sumpah, bahwa hadis yang disampaikan itu benar-benar dari Nabi saw. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa fungsi sumpah dalam periwayatan hadis bagi Ali tidaklah sebagai syarat mutlak keabsahan periwayatan hadis, sumpah dianggap tidak perlu apabila orang yang menyampaikan riwayat hadis telah benar-benar tidak mungkin keliru.

Ali Bin Abi Thalib sendiri cukup banyak meriwayatkan hadis Nabi, hadis yang diriwayatkannya selain bentuk lisan juga dalam bentuktulisan (catatan). Hadis yang berupa catatan, isinya berkisar tentang hukuman denda (diyat), pembahasan orang islm yang ditawan oleh orang kafir dan larangan melakukan hukum kisos (qishash) terhadap orang islam yang membunuh orang kafir. Ahmad Bin Hambal telah meriwayatkan hadis melalui riwayat Ali Bin Abi Thalib sebanyak lebih dari 780 hadis.[8]

Dilihat dari kebijaksanaan pemerintah, kehti-hatian dalam kegiatan periwayatan hadis pada zaman khalifah Ali Bin Abi Thalib sama dengan pada zaman sebelumnya. Akan tetapi situasi ummat islam pada zaman Ali telah berbeda dengan zaman sebelumnya. Pada zaman Ali pertentangan politik dikalangan ummat islam telah makin menajam. Peperangan antara kelompok pendukung Ali dengan pendukung Mu’awiyah telah terjadi. Hal ini membawa dampak negatif dalam bidang kegiatan periwayatan hadis. Kepentingan politik telah mendorong terjadinya pemalsuan hadis.

sumber :

 

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/

Close
Menu