Analisis dalam Perspektif Islam

Analisis dalam Perspektif Islam

Analisis dalam Perspektif Islam

Analisis dalam Perspektif Islam
Analisis dalam Perspektif Islam

Dalam pandangan islam, dengan tampilnya psikologi humanistik (yang dipengaruhi filsafat fenomenologi dan eksistensialisme) dapat diterima, meski tidak sepenuhnya. Manusia dalam pandangan islam bukan dilihat sebagai objek tetapi subjek. Ia menempati posisi terhormat sebagai sebaik-baik ciptaan.

Sebagaimana yang terkandung pada Surat at-Tiin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ.

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Kelahirannya di bumi sebagai khalifah merupakan peran yang nanti ia pertanggung jawab bukan saja pada diri dan komunitasnya saja, tetapi kepada semesta alam untuk membuatnya damai dan tenteram.

Sebagaimana yang terkandung pada Surat al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ.

Manusia bertanggung jawab untuk menunaikan amanat yang dipikulkan  dalam pencarian makna hidup, relatifitas manusia menyadarkannya tentang otoritas wahyu, sehingga hekekat hidup menjadi betul-betul bermakna sebagaimana Tuhan berencana terhadap kehadirannya pada pertama kali menciptakan manusia.

Sebagaimana yang terkandung pada Surat al-Ahzab ayat 72:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا.

Bukan sekedar Viktor E.Frank l yang berujar: “Will to Meaning” yang tanpa arah. Jadi,  disini islam memandang manusia bukan saja harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya “حبل من النَاس”. Atau kata Martin Buber: “I Thou Relationship”, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan Tuhan “حبل من الله”. Dan hakikat penciptaannya tiada lain hanyalah sebagai hamba yang harus taat pada ربَ العالمين “ Rabb Semesta Alam”.

 Pandangan Islam tentang Eksistensi Manusia

 إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا.  إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا.

Artinya:

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan : 2-3)

Berbicara mengenai eksistensi manusia yang dalam hal ini psikologi eksistensial terdapat beberapa hal yang memiliki kesamaan dengan yang diajarkan dalam Islam. Seperti yang terdapat pada ayat diatas, dapat kita ambil makna bahwa sesungguhnya manusia diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan ataupun keburukkan untuk hidup yang jelas Allah SWT telah memberikan petunjuk yang benar dan lurus, apabila kemudian mereka (manusia) mau bersyukur ataupun kufur tergantung kepada manusia itu sendiri. Karena Allah SWT telah memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk dikembangkan dan digunakan sebaik-baiknya.

Dalam memandang kebebasan menusia untuk berbuat sesuatu untuk hidupnya psikologi eksistensi juga mengungkapkan hal tersebut, manusia akan hidup dalam eksistensinya walaupun dengan pilihan hidup yang otentik dan tidak otentik manusia itu sendiri juga yang memilihnya. Namun ada hal yang tidak dapat ditemukan oleh pemakalah dalam eksistensi manusia itu sendiri. Yaitu dari mana manusia itu berasal sehingga bisa menjadi ada-di-dunia atau disebut Dasein. Manusia tidak memiliki eksistensi terlepas dari dunia dan dunia tidak memiliki eksistensi terlepas dari manusia. Tidak ada penjelasan bagaimana manusia dan dunia bisa ada. Kami memang menemukan aspek “tuhan” serta ‘spiritual’ pada analisa mimpi yang dilakukan oleh Boss akan tetapi penjelasan aspek tersebut tidak ditemukan. Seolah-olah manusia dan dunia muncul dengan begitu saja kemudian manusia itu menyadari keberadaannya maka dia ‘ada’. Sedangkan dalam ayat diatas jelas manusia diciptakan dari setetes mani yang bercampur oleh Allah SWT.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/goetia-apk/

Close
Menu