Berkaca Kasus Guru Budi, Ini Saran Praktisi Pendidikan

Berkaca Kasus Guru Budi, Ini Saran Praktisi Pendidikan

Berkaca Kasus Guru Budi, Ini Saran Praktisi Pendidikan

Berkaca Kasus Guru Budi, Ini Saran Praktisi Pendidikan
Berkaca Kasus Guru Budi, Ini Saran Praktisi Pendidikan

Tragedi meninggalnya guru kesenian SMAN I Torjun, Sampang, Jawa Timur, Achmad Budi Cahyono, Kamis (1/2), menyisakan duka mendalam, khususnya bagi dunia pendidikan Tanah Air.

Publik tak habis pikir, seorang anak didik, yang semestinya memberikan rasa hormat kepada gurunya, justru sebaliknya.

Hanya karena perselisihan kecil, sang murid tega menganiaya gurunya sendiri hingga menghembuskan napas terakhir.
Kasus Guru Budi
Praktisi Pendidikan, Yovita L Handini (Ist/Jawapos.com)

Praktisi Pendidikan, Yovita L Handini menegaskan peristiwa tragis itu harus menjadi refleksi secara menyeluruh bagi semua pemangku kepentingan di dunia pendidikan, baik guru, orang tua, pemerintah, maupun anak didik sendiri.

“Kejadian tragis itu tentu mengusik perasaan kita, bagaimana bisa terjadi seorang anak didik

menganiaya gurunya? Adakah yang salah dalam dunia pendidikan kita?” ujar Yovita kepada JawaPos.com di Jakarta, Rabu (7/2)

Untuk itu, wanita lulusan University of Washington ini mengulas beberapa sudut pandang melihat persoalan tersebut.

Pertama, dari segi hak-hak guru dalam mendidik, sesungguhnya terdapat kebutuhan akan perlindungan terhadap para guru.

“Pemerintah perlu memberikan perlindungan hak bagi para guru dalam mendidik dan membimbing anak didik, seperti dalam hal menegur anak didik. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, begitu juga seorang anak. Bagi seorang guru, menegur ada kalanya penting dalam rangka memastikan bahwa anak didik berkembang secara baik,” ulas wanita yang juga Direktur SD Sentana Montessori Bogor, Jawa Barat itu.

Sebenarnya, menurut Yovita, ada beberapa cara dalam menegur anak didik. Bisa hanya dengan menggelengkan kepala

atau dengan halus menegur bahwa yang dilakukan anak didik adalah tidak tepat.

“Tetapi, jika kelakuan anak didik sudah melebihi batas, mengganggu proses belajar mengajar, atau membahayakan orang lain, maka seorang guru juga dituntut untuk dapat mengambil tindakan yang bijaksana dalam mendisiplinkan anak didik tersebut,” jelas Yovita.

Yovita berpendapat, seberapa jauh tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam mendisiplinkan anak didik perlu dibuat kejelasan peraturan. Kejadian seperti yang terjadi di Sampang bukanlah yang pertama kali.

Sudah banyak guru yang harus berurusan dengan hukum karena mendisiplinkan anak didiknya di dalam kelas.

“Karena itu, kejelasan undang-undang yang mengatur perlindungan terhadap guru dalam melaksanakan tugasnya

sangat diperlukan, sehingga guru dapat dengan tenang menjalankan tugasnya dalam rangka menciptakan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, mandiri, kreatif, dan inovatif,” tegas Yovita.

Aspek berikutnya, menurut Yovita, bagaimana melihat hubungan guru dengan anak didik? Apakah guru melihat anak didik sebagai objek atau sebagai subjek?

Guru adalah salah satu role model bagi anak-anak. Karena itu, bagaimana seorang guru harus menunjukkan hal-hal kebaikan kepada anak-anak.

“Memang, tidak dapat dipungkiri beban mengajar yang menjadi tanggung jawab seorang guru tidaklah ringan. Ditambah beban hidup para guru sebagai individu, sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat, dan juga sebagai warga negara,” ulasnya.

Para guru, lanjut Yovita, juga harus bisa belajar mendengar dan berdiskusi dengan anak didiknya. Seorang guru diharapkan untuk dapat memahami karakter individu anak didik.

Dengan mengerti karakter yang berbeda-beda dari setiap anak didik, dapat membaca perubahan sikap seorang anak didik.

“Jika kita dapat membaca dan memperhatikan hal tersebut, kita dapat membantu anak didik melepaskan kegalauan mereka sedini mungkin. Hal ini diharapkan dapat mencegah terjadinya perlakuan yang merusak,” jelasnya.

Selanjutnya, Yovita menegaskan bahwa guru bukanlah pendidik yang utama. Walaupun dalam kenyataannya, orang tua mengharapkan guru sebagai pendidik yang utama.

“Perlu kita ingat bahwa keluarga adalah pendidikan yang pertama dan terutama bagi seorang anak. Peranan orang tua dalam perkembangan karakter seorang anak sangatlah penting,” pungkas Yovita.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/puisi-lama/