Dasar Hukum Waris

Dasar Hukum Waris

Dasar Hukum Waris

Dasar Hukum Waris

  1. Menurut al-Qur’an

Dalil yang menyatakan bahwa berhak mendapatkan waris adalah Al-Qur’an dalam surah An-Nisa ayat 11, yaitu:

ÞOä3ŠÏ¹qムª!$# þ’Îû öNà2ω»s9÷rr& (̍x.©%#Ï9 ã@÷VÏB Åeáym Èû÷üu‹sVRW{$# 4bÎ*sù £`ä. [ä!$|¡ÎS s-öqsù Èû÷ütGt^øO$#£`ßgn=sù $sVè=èO $tB x8ts? ( bÎ)ur ôMtR%x.Zoy‰Ïmºur $ygn=sù ß#óÁÏiZ9$# 4 Ïm÷ƒuqt/L{urÈe@ä3Ï9 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß‰¡9$# $£JÏBx8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrOÍ‘urur çn#uqt/r&ÏmÏiBT|sù ß]è=›W9$# 4 bÎ*sù tb%x. ÿ¼ã&s!×ouq÷zÎ) ÏmÏiBT|sù â¨ß‰¡9$# 4 .`ÏB Ï‰÷èt/7p§‹Ï¹ur ÓÅ»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ 3öNä.ät!$t/#uä öNä.ät!$oYö/r&ur Ÿw tbrâ‘ô‰s?öNßg•ƒr& Ü>tø%r& ö/ä3s9 $YèøÿtR 4 ZpŸÒƒÌsùšÆÏiB «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã$VJŠÅ3ym ÇÊÊÈ

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orangtua (ibu dan bapak) masing-masing mnedapatkan seperenam apabila pewaris mempuanyai keturunan. Akan tetapi, bila pewaris tidak mempunyai anak, seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orangtua. Ayat tersebut juga telah menegskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak, ibu mendapat bagian sepertiga. Namun, ayat itu tidak menjelaskan bagian ayah. Dari sini, dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu, dua per tiganya menjadi hak ayah. Dengan demikian, penerimaan ayah disebabkan ia sebagai ‘ashabah.

y7tRqçFøÿtGó¡o„ È@è% ª!$# öNà6‹ÏFøÿム’ÎûÏ’s#»n=s3ø9$# 4 ÈbÎ) (#îtâöD$# y7n=yd }§øŠs9¼çms9 Ó$s!ur ÿ¼ã&s!ur ×M÷zé& $ygn=sùß#óÁÏR $tB x8ts? 4 uqèdur !$ygèO̍tƒ bÎ) öN©9`ä3tƒ $ol°; Ó$s!ur 4 bÎ*sù $tFtR%x.Èû÷ütFuZøO$# $yJßgn=sù Èb$sVè=›V9$#$®ÿÊE x8ts? 4 bÎ)ur (#þqçR%x. Zouq÷zÎ)Zw%y`Íh‘ [ä!$|¡ÎSur Ìx.©%#Î=sù ã@÷WÏBÅeáym Èû÷üu‹s[RW{$# 3 ßûÎiüt6ムª!$# öNà6s9br& (#q=ÅÒs? 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx«7OŠÎ=tæ ÇÊÐÏÈ

“ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Pada tersebut tidak disebutkan bagian saudara kandung, melainkan saudara kandung yang akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. Kemudian, makna kalimat “wahuma yaritsuha” memberi isyarat bahwa peninggalan menjadi haknya. Inilah makna‘ashabah.

Diperkuat juga oleh hadis Rasulullah SAW.,

“Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak, dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama”. (H.R. Adz-Dzarimi).

Hadis ini menunjukkan perintah Rasulullah SAW. Agar memberikan hak waris kepada ashab al-furudh. Jika masih tersisa, harta warisan diberikan kepada golongan terdekat dari ‘ashabah (orang laki-laki yang paling utama dari ‘ashabah). Pengertian lafazh “dzakarun” dalam kalimat “fali aula rajulin dzakarin” yang menunjukkan makna seorang laki-laki (menurut gendernya) dengan tidak membedakan anak kecil atau dewasa, dimaksudkan untuk menolak anggapan yang salah, yang hanya memahaminya sebagai anak dewasa dan berkuasa. Padahal, seorang bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai ‘ashabah dan menguasai seluruh harta harta warisn yang ada jika dia sendirian.


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/

Close
Menu