Datang ke IPB, Menkominfo RI Berikan Kuliah Umum Nasionalisme di Era Digital

Datang ke IPB, Menkominfo RI Berikan Kuliah Umum Nasionalisme di Era Digital

Datang ke IPB, Menkominfo RI Berikan Kuliah Umum Nasionalisme di Era Digital

Datang ke IPB, Menkominfo RI Berikan Kuliah Umum Nasionalisme di Era Digital
Datang ke IPB, Menkominfo RI Berikan Kuliah Umum Nasionalisme di Era Digital

Perkembangan era digital yang sangat cepat membuat identitas manusia sudah mulai ditentukan oleh akun yang dimilikinya di dunia maya.

Pada rentang ekonomi digital yang masih dalam tahap sangat muda, anak-anak bangsa telah mampu menorehkan legacy dalam level internasional, yang bukan hanya manis untuk dikenang, namun juga pasti akan menginspirasi pencapaian anak bangsa lainnya.

Dengan sifat dasarnya yang universal, teknologi digital ikut pula mengubah konsep bernegara. Demikian disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara saat memberikan Kuliah Umum bertajuk Nasionalisme di Era Digital, Senin (24/9/2018) di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga, Bogor.

“Dalam memasuki ekonomi yang berbasis digital ini kita beruntung telah memiliki beberapa perusahaan rintisan besar atau unicorn yang menunjukkan kinerja yang membanggakan dan menyumbang perekonomian bangsa secara makin signifikan,” urai Menteri.

Kegiatan ini digelar oleh atas kerjasama Kominfo RI dan Direktorat Kerjasama dan Hubungan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB).

Menurut Rudiantara, sejak tahun 2017, Go Jek mendapatkan predikat sebagai salah satu dari “56 Companies That Change the World” oleh Fortune Magazine berkat sumbangsihnya yang kuat pada dunia dalam hal dampak sosial, nilai tambah dan inovasi.

Bukan hanya dalam hal unicorn, dalam hal startup pun Indonesia telah menunjukan tajinya. Berdasarkan data dari startup ranking hingga bulan Maret 2018, Indonesia menempati urutan ke empat dunia dalam hal jumlah startup. Urutan pertama Amerika Serikat, kedua India, ketiga Inggris dan keempat Indonesia.

“Setiap negara di dunia saat ini sedang berlomba-lomba untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi asing untuk para startup. Indonesia termasuk yang beruntung menjadi incaran para investor startup kelas dunia. Hasilnya sudah dilihat bersama, Indonesia menjadi salah satu negara yang jumlah unicomnya berkembang pesat,” ujarnya di hadapan ribuan mahasiswa IPB yang hadir.

Lebih lanjut dikatakannya, pada saat-saat perekonomian dunia yang bergejolak seperti saat ini, Indonesia patut bersyukur bahwa beberapa sektor, sejak beberapa tahun lalu, sudah benar-benar menerapkan strategi untuk menaikkan syarat-syarat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi barang yang masuk ke tanah air.

Sebagai informasi, saat ini jumlah merek telepon genggam dan tablet serta perangkat sejenis lainnya yang telah berunsur TKDN yang memenuhi syarat sejumlah 43 merek, 11 diantaranya adalah merek nasional. Namun sisi software juga tidak boleh dilupakan, oleh sebab itu ada skema yang memberikan alternatif untuk memenuhi persyarakatan TKDN dari sisi software juga, selain hardware.

Menurutnya, memang strategi penerapan TKDN bukan tanpa tantangan. Negara-negara lain j

uga berkepentingan untuk melindungi ekspansi pasar perusahaan-perusahaan mereka dari pembatasan ekspor.

Demikan juga berbagai pakta perjanjian perdagangan bebas juga memandang dengan tajam setiap gerakan pembatasan impor negara anggotanya. Namun, saat-saat genting dan kritis seperti saat gejolak kurs dunia ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap pasar dan industri dalam negeri adalah strategi yang harus tetap ditempuh, sejajar dengan kesepakatan perdagangan bebas.

Menteri nenegaskan bahwa dalam membangun ekonomi digital, pemerintah dalam hal ini Kominfo telah menyesuaikan dengan gaya yang pas untuk perubahan zaman sekarang ini. Kominfo telah “mendisrupsi diri” dengan tidak lagi memainkan peran sebagai regulator yang paling menentukan segala sesuatunya, namun telah banyak melakukan pergeseran dengan memainkan peran sebagai fasilitator dan ekselerator.

“Beberapa perubahan peran Kominfo yang menunjukkan kesesuaian dengan kepemimpinan digital

yaitu relaksasi dan simplifikasi regulasi, kebijakan afirmatif untuk pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, mendorong kewirausahaan digital dan mengakselerasi lahirnya unicorn baru melalui program Next Indonesia Unicorn,” ujarnya.

Akhirnya dengan kepemimpinan digital yang berusaha secepat dan setepat mungkin menghadirkan ekosistem digital, pemerintah berharap dapat menumbuhkan budaya wirausaha yang inovatif di seluruh tanah air. Jumlah unicorn dan startup yang menjamur di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah membuka kesempatan bagi mereka seluas-luasnya dan mendukung dengan sepenuh hati.

“Jadi mari, mahasiswa IPB dalam kesempatan ini menyiapkan inovasi dan memanfaatkan ekosistem

yang sudah dibangun oleh pemerintah dan menjadi kekuatan ekonomi bangsa di era digital ini,” tandasnya.

Sementara Rektor IPB, Dr. Arif Satria mengatakan bahwa nasionalisme di era digital merupakan sebuah isu yang sangat penting untuk dipahami bersama. Tentu para mahasiswa sekarang yang merupakan digital native sudah terbiasa dengan dunia digital.

Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegram, telepon dan internet merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan aktivitas ekonomi, sosial dan budaya di kalangan masyarakat dunia.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/