Guru Besar UI Paparkan Perbedaan Koperasi Eropa dan Indonesia

Guru Besar UI Paparkan Perbedaan Koperasi Eropa dan Indonesia

Guru Besar UI Paparkan Perbedaan Koperasi Eropa dan Indonesia

Guru Besar UI Paparkan Perbedaan Koperasi Eropa dan Indonesia
Guru Besar UI Paparkan Perbedaan Koperasi Eropa dan Indonesia

Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PSEP) Universitas Trilogi menggelar Diskusi Interaktif bertajuk

‘Membangun Koperasi Indonesia’, Selasa (28/8). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian seri diskusi rutin PSEP.

Hadir sebagai pembicara adalah Guru Besar Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono. Kemudian Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja, serta Kepala PSEP Setia Lenggono.

Dalam paparannya, Sri Edi Swasono mengatakan bahwa konsep koperasi Indonesia berbeda dengan tempat asalnya, Eropa. Jika di Benua Biru koperasi merupakan kerjasama antar individu atau perusahaan sejenis yang memiliki tujuan sama. Kemudian bergabung secara sukarela untuk mendirikan koperasi agar dapat bekerja lebih efisien sehingga mampu bersaing di pasar, tidak demikian dengan di Tanah Air.

“Koperasi Indonesia justru merupakan institusi ekonomi yang sesuai dengan hakekat manusia Indonesia,

” ujar Edi.

“Dengan kata lain basisnya ada kekeluargaan, tidak sekadar keuntungan semata,” lanjut dia.

Edi menjelaskan, Koperasi Indonesia dibentuk sebagai lembaga usaha yang dapat menyelaraskan hak warga negara, masyarakat, dan negara untuk mencapai kesejahteraan bersama seluruh rakyat.

Oleh karena itu, pengertian koperasi Indonesia adalah perkumpulan dari warga negara Indonesia

, yang bersatu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya. “Yakni melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala PSEP, Setia Lenggono mengatakan, pihaknya juga telah menyusun sebuah buku yang menjadi bahan ajar untuk para mahasiswa. Yakni terkait Koperasi Indonesia.

Rencananya, buku yang disusun oleh Tim Dosen Universitas Trilogi tersebut bakal digunakan pada mahasiswa semester 3. “Saya rasa penting bagi para mahasiswa untuk mengetahui urgensi koperasi bagi masyarakat,” ujar Setia.

Setia mengatakan, nilai-nilai koperasi Indonesia berbeda jauh dengan yang ada di Eropa. Di Tanah Air, koperasi bukan sekadar berorientasi pada keuntungan semata. Tetapi bagaimana memberdayakan perkekonomian masyarakat.

“Gak profit oriented. Tapi bagaimana menghimpun potensi masyarakat, untuk kemudian dikembalikan kepada masyarakat. Di sini ada semangat gotong-royong memakmurkan masyarakat,” pungkas dia. (

 

Baca Juga :