Kesimpulan Revisi dan Analisis

Kesimpulan Revisi dan Analisis

Kesimpulan Revisi dan Analisis

Kesimpulan Revisi dan Analisis
Kesimpulan Revisi dan Analisis

 Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusiaindividu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Aliran ini berpedirian bahwa filsafat memang harus bertitik tolak pada manusia konkrit, yakni manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini, maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.

Eksistensialisme mempersoalkan keber-ada-an manusia, dan keber-ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji. Baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.

Walaupun terdapat beberapa sisi positif dari pemikiran ini tetapi ada pula kelemahan dari pemikiran ini, yaitu:

  1. Etika pemikiran ini terperosok ke dalam pendirian yang individualisme,
  2. Mengabaikan tata tertib dan peraturan serta hukum,
  3. Selalu mengambil sikap dengan dasar kebebasan, dan
  4. Amat memperhitungkan situasi tapi mudah goyah.

Dalam ajaran filsafat ini, dapat diambil sebuah ajaran pokok bahwa manusia merupakan tonggak utama untuk menggerakkan ketentuan dalam keberadaannya sendiri. Padahal manusia hanyalah salah satu  makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Dengan demikian, maka Tuhanlah yang mempunyai kedudukan sebagai “Penggerak Pertama” atau “Penggerak yang Tak Tergerakkan”, karena segala sesuatu di dunia ini pasti ada yang menciptakan dan tidak mungkin suatu akibat muncul begitu saja tanpa disertai dengan sebab.

Dengan demikian, maka Thomas Aquinas dengan tegas menyatakan, “Manusia tidaklah menciptakan nilai dan norma sosialnya sendiri, atau dengan kata lain, manusia tidaklah berada pada “Proses penciptaan yang terus-menerus dan berulang-ulang pada dirinya sendiri”, melainkan sekedar “menemukan” serta kembali “menemukan” secara terus-menerus dan berulang-ulang tanpa henti. Pandangan Islam tentang eksistensi manusia adalah sebagai berikut:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا.  إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا.

Artinya:

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan : 2-3)

Berbicara mengenai eksistensi manusia yang dalam hal ini psikologi eksistensial terdapat beberapa hal yang memiliki kesamaan dengan yang diajarkan dalam Islam. Seperti yang terdapat pada ayat diatas, dapat kita ambil makna bahwa sesungguhnya manusia diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan ataupun keburukkan untuk hidup yang jelas Allah SWT telah memberikan petunjuk yang benar dan lurus, apabila kemudian mereka (manusia) mau bersyukur ataupun kufur tergantung kepada manusia itu sendiri. Karena Allah SWT telah memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk dikembangkan dan digunakan sebaik-baiknya.

Serta pada ayat 7&10:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ.  أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ.  وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ.  وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ.

“Dan langit telah ditingggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.(7) Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya.(10)”.

Bahwa manusia dan dunia adalah hasil ciptaan Allah SWT. dan tidak begitu saja ada. Memang dalam teori in terdapat konsep transendensi, akan tetapi pengertian transendensi disini menekankan pada cara manusia untuk melampaui/mengatasi permasalahan dunianya.

Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusiasebagai sebuah fenomena. Aliran ini berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dapat dicapai melalui pengamatan terhadap fenomena atau pertemuan kita dengan fenomena.

Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini. Fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami. Sumber pengetahuan dan kebenaran difokuskan pada obyek itu sendiri, tanpa meninggalkan kenyataan yang tampak pada obyek tersebut.

Filsafat Fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya yang dinamakan untuk mencapai “hakikat segala sesuatu”. Untuk mencapai hakikat segala sesuatu itu melalui reduksi. Adapun tiga hal yang perlu disisihkan dari usaha menginginkan kebenaran yang murni, yaitu:

  1. Membebaskan diri dari anasir atau unsur subjektif,
  2. Membebaskan diri dari kungkungan teori, dan hipotesis, serta
  3. Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional.

Setelah mengalami reduksi yang pertama tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal, fenomena yang dihadapi menjadi fenomena yang murni, tetapi belum mencapai hal yang mendasar atau makna sebenarnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha mencari kebenaran yang tertinggi.

Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision. Selanjutnya, menurut Husserl, epoche memiliki empat macam, yaitu:

  1. Method of Historical Bracketing; metode yang mengesampingkan aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adapt, agama maupun ilmu pengetahuan.
  2. Method of Existensional Bracketing; meninggalkan atau abstain terhadap semua sikap keputusan atau sikap diam dan menunda.
  3. Method of Transcendental Reduction; mengolah data yang kita sadari menjadi gejala yang transcendental dalam kesadaran murni.
  4. Method of Eidetic Reduction; mencari esensi fakta, semacam menjadikan fakta-fakta tentang realitas menjadi esensi atau intisari realitas itu. Dengan menerapkan empat metode epoche tersebut seseorang akan sampai pada hakikat fenomena dari realitas yang dia amati.

Jadi, penelitian yang diajarkan dalam aliran filsafat ini adalah mempelajari apa yang ada di balik obyek tersebut, bukan diteliti berdasarkan apa yang tampak secara dhohir. Oleh karenanya, harus dibebaskan terlebih dahulu dari semua hal yang berhubungan dengan obyek tersebut seperti semua unsur subyektif yang meliputinya, ciri-ciri instrinsik dari fenomena yang akan diteliti, sehingga pada fenomena tersebut nantinya hanya tersisa gambaran-gambaran yang hakiki dan intuisi esensi selanjutnya diteliti secara obyektif.

Fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif.

Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati.

Dibalik kelebihan-kelebihannya, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang absurd. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free), tetapi bermuatan nilai (value-bound). Hal ini dipertegas oleh Derrida, yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai, tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif.

Dalam pandangan islam, dengan tampilnya psikologi humanistik (yang dipengaruhi filsafat fenomenologi dan eksistensialisme) dapat diterima, meski tidak sepenuhnya. Manusia dalam pandangan islam bukan dilihat sebagai objek tetapi subjek. Ia menempati posisi terhormat sebagai sebaik-baik ciptaan.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/

Close
Menu