Khiyar ‘Aibi (cacat)

Khiyar ‘Aibi (cacat)

Khiyar ‘Aibi (cacat)

Khiyar ‘Aibi (cacat)
Khiyar ‘Aibi (cacat)

a. Pengertian dan Landasan Khiyar ‘Aibi

Yang dimaksud dengan khiyar ‘aibi adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang di belinya, apabila terdapat pada barang yang dibeli itu semua cacat yang mengurangkan akan yang dimaksud pada barang itu atau mengurangkan harganya, sedang biasnya barang yang sepetri itu baik sewaktu akad cacatnya itu sudah ada tetapi si pembeli tidak mengetahui sesudah terjadi akad.

Khiyar ‘aibi disyariatkan dalam islam yang didasarkan pada hadits hadits, diantaranya:

Artinya: “ Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk menjual barang bagi saudaranya yang mengandung kecacatan kecuali jika menjelaskannya terlebih dahulu.” (HR. Ibn Majah dari Uqbah Ibn Amir)

Artinya: “Suatu hari Rasulullah SAW. Melewati seorang pedagang makanan kemudian beliau mencelupkan tangannya keatas makanan tersebut, dan mengetahui makanan itu basah(basi). Bersabda” Barang siapa yang menipu kita, ia bukan dari golongan kita.” (HR. Muslim)

b. ‘Aibi mengharuskan Khiyar

Ulama Hanafiyah dan Hanabila berpendapat bahwa ‘aibi pada khiyar adalah segala sesuatu yang menunjukkan adnya kekurangan dari aslinya misalnya berkurang nilainya menurut adat, baik berkurang sedikit atau banyak.
Menurut ulama syafi’iyah segala sesuatu yang datang dipandang berkurang nilainya dari barang yang di maksud atau tidak adanya barang yang dimaksud, seperti sempitnya sepatu. Potongnya tanduk binatang yang akan dijadikan kurban.

c. Syarat tetapnya khiyar

Disyaratkan untuk tetapnya khiyar ‘aibi setelah diadakan penelitian yang menunjukan :
1. Adanya ‘aibi setelah akad atau sebelum diserahkan, yakni ‘aibi tersebut telah lama ada. Jika adanya setelah adanya penyerahan atau ketika berada ditangan pembeli, ‘aibi tesebut tidak tetap.
2. Pembeli tidak mengetahui adanya cacat ketika akad dan ketika menerima barang. Sebaliknya, jika pembeli sudah mengetahui adanya cacat ketika menerima barang, tidak ada khiyar sebab ia dianggap telah ridha.
3. Pemilik barang tidak mensyaratkan agar pembeli membebaskan jika ada cacat. Dengan demikian, jika penjual mensyaratkannya tidaka ada khiyar. Jika pembeli membebaskannya gugurlah hak dirinya. Hal itu sesuai dengan pendapat ulama hanafiyah.
Ulama syafi’iyah, malikiyah, dan menurut salah satu riwayat hanabilah berpendapat bahwa seorang penjual tidak sah minta dibebaskan kepada pembeli kalu ditemukan aibi, apabila ‘aibi tersebut sudah diketahui oleh keduanya, kecuali jika ‘aibi tidak diketahui oleh pembeli.

Sumber: dutadakwah.org

Close
Menu