Makna Islam Dalam Al-Quran

Makna Islam Dalam Al-Quran

Makna Islam Dalam Al-Quran

Makna Islam Dalam Al-Quran

Kata “al-islaam” bermakna

patuh sepenuh hati dengan kerendahan diri dan kerendahan hati, yaitu : kepatuhan dengan kerendahan diri dan meninggalkan hal-hal yang bersifat membantah. Maka, Allah SWT berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿ال عمران :١٩﴾

”Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran 3 : 19)

Sesungguhnya semua agama dan syari’at yang didatangkan oleh para Nabi, ruh atau intinya adalah Islam (menyerahkan diri), tunduk dan menurut. Meskipun dalam beberapa kewajiban dan bentuk amal agak berbeda, hal ini pulalah yang selalu diwasiatkan oleh para Nabi. Orang muslim hakiki adalah orang yang bersih dari kotoran syirik, berlaku ikhlas dalam amalnya, dan disertai keimanan, tanpa memandang dari agama mana dan dalam zaman apa ia berada.

Ayat ini menurut Ibnu Katsir, mengandung pesan dari Allah bahwa tiada agama disisi-Nya dan yang diterima-Nya dari seorang pun kecuali Islam. Yaitu mengikuti Rasul-rasul yang diutus Nya setiap saat hingga berakhir dengan Muhammad SAW. Dengan kehadiran beliau, telah tertutup semua jalan dari arah beliau sehingga siapa yang menemui Allah setelah diutusnya Muhammad SAW. Dengan menganut satu agama selain syari’at yang beliau sampaikan, tidak diterima oleh-Nya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿ال عمران :٨۵﴾

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran 3 : 85)

Ayat tersebut mendasari keyakinan bahwa islam melebihi seluruh agama. Orang yang memilih agama selain agama islam menjadi rugi dunia akhirat. Dalam Hadis lain Rasul bersabda:

Artinya: “ Islam ialah persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu adalah Rasul Allah, mendirikan solat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan naik haji bagi orang yang sanggup.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam didirikan atasSyahadatain (dua persaksian), yaitu kesaksian “ Tiada Tuhan Selain Allah” dan “Muhammad Rasul Allah”. Kalimat ini disebut “Kalimat Tauhid”,yaitu kesaksian akan ke-Esaan wujud Tuhan yang wajib dijadikan pengabdian. Syahadat ini di realisasikan dengan loyalitas terhadap Tuhan dan Rasul dengan mendirikan solat, puasa, zakat, dan ibadah haji.

Ali ra. Berkhutbah, “Agama Islam adalah menyerahkan diri, dan menyerahkan diri adalah adalah keyakinan, dan keyakinan ialah percaya, percaya ialah berikrar, dan berikrar ialah melaksanakan, sedang melaksanakan adalah mengamalkan,” selanjutnya beliau mengatakan, “sesungguhnya seorang mu’min mengambilnya dari pendapatnya sendiri. Orang yang beriman diketahui keimanannya dari amal perbuatannya, dan orang kafir diketahui kekafirannya dari keingkarannya. Wahai umat manusia, berhati-hatilah terhadap agamamu, sebab sesungguhnya kejelekan di dalam agama ini (Islam) adalah lebih baik dari pada kebaikan yang lainnya. Sebab kejelekan di dalamnya akan diampuni, sedang kebaikan selainnya tidaklah diterima.

Dalam berbagai ayat ini menunjukkan bahwa makna Islam sendiri penyerahan total kepada Allah dan harus diiringi dengan pengamalannya. Sedangkan Islam sendiri merupakan suatu kesatuan agama yang disepakati oleh semua Nabi. Adapun perselisihan agama itu dihasilkan dari pengikut agama karena kedengkian dan kedzaliman mereka.

Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi, sebagaimana diakui oleh orang-orang Yahudi, dan bukan orang Nasrani seperti diakui orang Nasrani, dengan dalil seperti yang telah dikemukakan, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah dan juga sekali-kali bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik, yang dapat diduga oleh orang-orang musyrik Mekkah yang mengaku mengikuti agama beliau.

Dalam Al- Quran disebutkan bahwa Nabi Ibrahim as diberi gelar Hanifa Musliman. Firman Allah surat Ali Imran ayat 67:

ArtinyaBukanlah Nabi Ibrahim seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan bukan (pula) kaum musyrik”.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani  masing-masing menganggap nabi Ibrahim dari golongannya, lalu Allah membantah mereka dalam ayat tersebut.

Orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang beriman kepadanya dan mengikuti agamanya yang lurus. Dia adalah Nabi Muhammad SAW, sebab beliau berasal dari keturunan Ibrahim dan mempunyai agama yang sama yang berlandaskan tauhid. Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya, orang-orang Yahudi dan Nasrani bersengketa perihal Nabi Ibrahim as dan millahnya, yang mengklaim beliau berada dalam agamanya, adalah orang-orang yang bohong.

Sedangkan pendapat yang benar dalam hal tersebut adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang Islam. Mereka adalah pengikut Ibrahim yang berjalan pada garis syariatnya. Bukan agama selain Islam. Sebab, Nabi Ibrahim adalah orang yang taat kepada Allah SWT, berpegang pada sinar hidayah yang diperintahkan agar ia amalkan. Beliau adalah orang yang khusyu’ kepadaNya dengan merendahkan diri dan menutupi segala kewajiban dan ketetapa-Nya.

Allah SWT berfirman :

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ ﴿الشورى :١٣﴾

”Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”(QS. As-Syuura 42 : 13)

Agama yang diturunkan Allah lah yang menjadi pegangan bagi seluruh manusia. Allah telah mensyariatkan kepada umat  Nabi terakhir dari ajaran agama yakni prinsip-prinsip-Nya serupa dengan apa yang telah diwasiatkan pada Nabi Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa. Wasiat itu adalah : laksanakan tuntutan agama secara baik, sempurna dan bersinambung dan janganlah kalian berselisih dan berpecah belah satu sama lain.


Baca Juga :

Close
Menu