MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM

MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM

MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM

 

MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM
MULTIKULTURALISME PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan masih diyakini sebagai wahana transformasi social. Kepercayaan yang demikian berlanjut pada upaya pemharuan dalam ruang lingup pendidikanmebangun wawasan multikultural bukanlah hal yang mudah, terlebih dikalangan pemeluk agama yang boleh dikatakan masih terlalu sempit dan menyesakan dada dalam keagamaan mereka. Untuk itu upaya menanamkan kesadaran multikulturalis harus dimulai sejak dini mungkin.
Memberikan pandanagn yang lebih mengarah pada sikap toleransi, ramah terhadap perbedaan melaui institusi pendidikan sangatlah efektif. Tentunya langkah ini meuat berbagai macam tindakan yang berimplikasi pada berbagai macam orientasi dalam lingkup pendidikan. Dan dalam hal ini juga perlu didukung kesadaran para tenaga didik untuk lebih kreatif dan jangan sampai terjebak pada pola penyampaian materi keagamaan yang cenderung mengarah pada kesadaran negative-distruktif dan violence.
Ada beberapa orientasi dalam rangka membagun wawasan multikulturalisme dalam lingkup pensdidikan berbasis keagamaan.

Pertama

adalah orientasi muatan, dalam hal ini pada hekekatnya adalah menerjemahkan pandangan dunia pluralistic dan multikulturalistik kedalam praktik dan teori pendidikan.

Kedua

pendekatan kontributif. Adalah pendidikan paling sedikit keterlibatannya dalam revolusi pendidikan, terutama pendidikan multikultural. Pendelatan ini dilakukan dengan cara menyeleksi teks-teks wajib atau anjuran dengan aktifitas tertentu seperti hari libur.

Ketiga

Pendekatan aditif, dalam program berorientasi muatan ini mengambil bentuk penambahan muatan-miuatan, konsep-konsep, tema-tema dan perspektif ke dalam kurikulum tanpa mengubah struktur dasarnya.

Keempat

pendekatan transformative, yang secara actual perupaya merubah struktur kurikulum dalam mendorong siswa-siswa untuk melihat dan meninjau kembali konsep-konsep,tema-tema dan problem-problem lama, kemudian memperbaharui pemahaman dari berbagai perspektif dari sudut pandang etnik. Dengan demikian cukup memberikan ruang kreatifitas bagi peserta didik untuk beragumentasi berdasarkan pandangan suku budaya dan tata nilai yang berbeda sehingga menjadi proses latihan untuk menjadi berbeda dan merasa nyaman.

Kelima

pendekatan aksi social. Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada sisi pemahaman siswa terhadap isu-isu, tema-tema tetapi siswa mampu secara professional dilatih untuk memecahkan masalah dengan kemampuan yang dimilikinya.
Orientasi siswa, siswa mejadi orientasi terpenting, karena pada hakekatnya siswa merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan. Seorang siswa akan mendengar, mengamati dan mempelajari apa yang di dengar, di lihat dan diperagakan orang dewasa. Termasuk apa yang diperagakan seorang guru, akan membawa pada pengendapan sikap melalui pembiasaan dan latihan. Disini siswa sudah mulai dikenalkan kepada keragaman dalam lingkungan sekolah, termasuk keragaman aliran keagamaan ataupun sekte dalam agama.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/