Nama Allah

 Nama Allah

            Dalam pembuktiannya, Anselmus membahas juga mengenai nama “Allah”. Anselmus mengatakan bahwa “Allah ada” dan kehadiran-Nya tidak dapat dipikirkan.  Mengenai nama Allah lebih jelas diungkapkannya setelah memulai doanya yang amat kusuk. Anselmus memberi nama dengan menyebutkan; “ Aliquid quo nihil malus cogitari possit”(sesuatu yang dari pada-Nya tidak dapat dipikirkan atau dibayangkan sesuatu yang lebih besar lagi). Jika kita menyebut nama Allah, maka kita sedang membicarakan sesuatu yang paling besar dan tidak ada yang lebih  besar lagi dari padanya. Maka kebesaran-Nya tidak dapat dibayangkan dan dipikirkan lagi. Karena tidak ada apapun  yang lebih besar dan agung lagi dari Dia sendiri. [12]

3.2. Allah dapat Dipahami

            Banyak filsuf dan termasuk orang Kristen mencoba mengerti dan memahami secara rasional segala sesuatu diluar yang nyata sekalipun, sejauh hal itu  masuk akal bagi pemikiran manusia. Anselmus bukan orang yang melulu irrasional karena ia selalu berusaha dan mencoba memahami dan membuktikan isi imannya. Anselmus memulai pembuktiannya dengan bertitik tolak dari imannya akan Allah. Menurutnya, jika orang mau memahami imannya, maka ia akan sampai pada pemikiran rasional.[13]

            Paham dan pengetahuan mengenai adanya Allah berawal dari iman. Imanlah yang pertama-tama menggerakkan hati kita untuk menyelidiki keberadaan-Nya. Setelah hati tergerak, maka akal budi akan berusaha untuk memahami-Nya dengan jalan refleksi. Kemudian rasio berusaha mengangkat kesadaran akan Allah yang masih bersifat afeksi itu sampai kepada tahap pengertian.[14]

            Kenyataan bahwa Allah dapat kita pahami dalam akal budi. Allah dapat kita pikirkan sebagai sesuatu yang tertinggi. Pemahaman akan adanya yang tertinggi sebagai “ada” tidak lepas dari pemikiran kita akan hal itu dalam akal budi. Sesuatu dikatakan kalau dia dapat dibayangkan, dipikirkan dan dipahami dalam akal budi sipemikir.[15]

Upaya Hukum PTUN

Close
Menu