Paham Karl Jaspers tentang Penerangan Eksistensi

Paham Karl Jaspers tentang Penerangan Eksistensi

Paham Karl Jaspers tentang Penerangan Eksistensi

Paham Karl Jaspers tentang Penerangan Eksistensi

Bagi Jaspers filsafat yang menjelaskan tentang penerangan eksistensi merupakan bagian yang penting. Sebab, dengan penerangan eksistensi manusia memahami dirinya sebagai mahluk yang bereksistensi yakni mengerti dan mencapai “aku” menurut intinya.[8]

Sejak awal Jaspers menerangkan eksistensi selalu behubungan dengan Transendensi. Tidak ada eksistensi tanpa transendensi. Bereksistensi, menurut Jaspers selalu berdiri di hadapan Transendensi. Transendensi itu menyembuyikan dirinya dari eksistensi manusia, yang menjadi dasar dari kebebasn manusia itu sendiri. Dengan paham ini, Jaspers mau mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak hanya diberi lewat kebijaksanaan ilahi, tetapi juga melalui apa yang tersembunyi. Transendensi atau yang ilahi berbicara atau bertindak lewat tanda-tanda yang harus dipahami dan dikenal manusia dengan menafsirkannya. Dengan menafsirkan tanda-tanda itu serta bagaimana  cara manusia menyikapinya akan memberi dasar dari eksistensi manusia. Dengan menafsir dan memberi keputusan terhadapnya manusia menentukan menjadi apa dirinya untuk selama-lamanya. Filsafat eksistensi bukan hanya filsafat yang hanya merenungkan kebenaran, tetapi juga menghayati dan menghidupi kebenaran. Dengan ini yang hendak dikatakan Jaspers adalah kebenaran cara berpikir manusia dibuktikan oleh sikap dan tindakannya. Itulah dasar sebagai manusia yang bereksistensi.[9]

Tujuan dari penerangan eksistensi adalah agar setiap individu memahami dan menyadari bahwa dalam diri setiap manusia memiliki keunikan yang mebedakannya dari mahluk lain. Keunikan yang dimaksudkan adalah adanya kemungkinan bagi manusia untuk menentukan dirinya sendiri, karena eksistensi itu bersifat individual dan personal. Kemungkinanku sebagai sebagai pribadi bukanlah kemungkinan manusia lain, Karena apa yang ada dalam diriku menuju kepenuhan yang sejati dalam kebebasanku.[10]

Meski eksistensi memiliki kebebasan yang total, namun eksistensi harus dihayati dalam relasi dengan eksistensi yang lain. Harus ada komunikasi antara eksistensi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian penerangan eksistensi membutuhkan komunikasi. Dengan adanya relasi dan komunikasi dengan eksistensi yang lainlah kebebasa dapat kita gunakan. Dalam relasi itu kita dapat memilih dan menyadari diri kita sendiri diantar yang lain. Dengan demikian penerangan eksistensi merupakan mengerti dan belajar menggunakan kebebasan untuk menjadi diriku yang sejati.[11]

  1. Kesimpulan

Pada abab XIX-XX ilmu pengetahuan dipandang sebagai segala-galanya. Metode empiris yang digunakan dianggap merupakan dasar dari satu kebenaran. Segala bidang hendak diukur dengan metode itu. Bahkan manusiapun didekati dengan metode empiris tersebut. Dengan pendekatan itu manusia dianggap hanyalah data dan objek dari ilmu pengetahuan sendiri. Maka, keunikan dan pribadi manusia tidak diakui. Padahal manusi tidak dapat didekati hanya dengan satu metode saja. Masih ada sisi lain yang harus dilihat dari manusia, karena manusia adalah mahluk yang berbeda dari mahluk yang lain, bahkan dengan sesama manusia sendiri.

sumber :

https://radiomarconi.com/

Close
Menu