Pengertian dan Ciri-ciri Teks, Serta Tiga Aspek Kesatuan dalam Teks

Pengertian dan Ciri-ciri Teks, Serta Tiga Aspek Kesatuan dalam Teks

Pengertian dan Ciri-ciri Teks, Serta Tiga Aspek Kesatuan dalam Teks

Pengertian dan Ciri-ciri Teks, Serta Tiga Aspek Kesatuan dalam Teks
Pengertian dan Ciri-ciri Teks, Serta Tiga Aspek Kesatuan dalam Teks

Ciri-ciri Teks

Teks ialah umgkapan bahasa yang menurut pragmatik, sintaktik, dan semantik/isi merupakan suatu kesatuan. Dalam praktik ilmu sastra, kita membatasi diri pada teks tertulis dengan alasan agar praktis. Secara teoritis, ungkapan bahasa lisan pun, asal merupakan suatu kesatuan, termasuk teks.
Apa yang dimaksud dengan kesatuan? Kesatuan ada tiga aspek sebagai berikut :

Pragmatik

 ialah bagaimana bahasa dipergunakan dalam suatu konteks sosial tertentu. Teks merupakan  suatu kesatuan bilamana ungkapan bahasa oleh para peserta dialami sebagai suatu kesatuan yang bulat, yang dimaksud dengan pragmatik yaitu pengetahuan mengenai perbuatan yang kita lakukan bilamana bahasa digunakan dalam suatu konteks.
Pada umumnya cukup sukar menentukan bila seseorang mengalami deretan ungkapan bahasa sebagai suatu kesatuan, misalnya sebuah berita dalam surat kabar yang di awali dengan nama kota Makassar, atau dari koresponde kami di Kanada dan diakhiri dengan sebuah garis pendek atau tanda asterik dan dalam kurung singkatan nama pengarang.

Sintaksis

sebuah teks harus memperlihatkan keberuntungan dan harus relevan. Hal ini antara lain tampak bila unsur-unsur petunjuk secara konsisten dipergunakan, contoh :
Kakak mendapat hadiah dihari ulang tahunnya, ia merasa gembira dan bahagia.
Kata ia pada kalimat kedua mengacu pada kakak pada kalimat pertama, kalau tidak, maka tidak ada kebertautan dan kita menghadapi dua kalimat yang lepas satu sama lain dan bukan satu (fragmen) teks. Kebertautan ini memang wajar sehingga seringkali tidak disadari dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Apalagi bila pembicara dan pendengar berada dalam situasi sama dengan kelebihan penggunaan bahasa lisan. Secara tidak sadar kita menggunakan kreterium ini bila kita memahami ungkapan-ungkapan bahasa. Andaikata ini tidak terjadi, maka penggunaan bahasa jadi lebih menyusahkan. Segala pertalian harus dieksplisitkan. Unsur-unsur bahasa yang mempunyai fungsi sebagai petunjuk intern dan yang menghematkan usaha untuk mengeksplisitkan sesuatu, seperti ia, dan nya, disebutanafora. Dalam suatu teks semua unsur anaforik harus menunjuk pada anteseden yang sama, misalnya kata ia harus menunjuk kepada orang yang sama. Perhatikan contoh:
Raihan dan Rani menonton suatu acara TV tadi malam.
Raihan minta pendapat Rani tentang acara itu, atau
Rani minta pendapat Raihan tentang acara itu. 

Kata acara juga harus diulang sebab sangat ganjal apabila digunakan kata itu saja.

Semantik (isi)

 yang menjadi tuntutan sebuah teks adalah tema global yang melingkupi semua unsur. Tema menunjukkan gagasan dasar dan tujuan utama penulisan sebuah teks, dengan kata lain tema berfungsi sebagai ikhtisal teks atau perumusan simboliknya. Tema yang mengikhtisarkan suatu laporan pertandingan badminton misalnya dapat dirumuskan Cina mengalahkan Malysia atau laporan lomba renang Rusmayana melampai perenang Singapura.
Apabila mengandung laporan mengenai peristiwa-peristiwa tema juga harus mencerminkan juga perubahan. Misalnya dengan susah payah Cut Nyak Dien berjuang melawan komponi. Kadang tema sebuah sajak dapat dirumuskan dengan satu tema saja, misalnya cinta, alam, pengorbanan, dan lain-lain. Sementara tema sebuah dialog menyajikan sebuah “perang lidah” yang dapat dirumuskan sebagai debat bisang keladi.
Merujuk pada sebuah tema saja tidaklah cukup bila diingat komleksitas sebuah teks. Bila merumuskan sebuah tema, kita baru memberikan sebuah penafsiran menyeluruh yang memberi kemungkinan kepada kita untuk meninjau teks sebagai suatu keseluruhan. Sesudah itu baru dapat ditinjau bagaimana tema itu tersusun.
Dalam teks-teks yang ingin meyakinkan pembaca atau pendengar, kesatuan-kesatuan itu adalah alasan-alasan yang diajukan. Istilah yang lebih umum yang menunjukkan kesatuan-kesatuan setiap teks adalah motif, yang menggunakan istilah ini terutama para formalis rusia. Yang dimaksud motif adalah sebagai satuan terkecil dalam peristiwa yang diceritakan ialah setiap kesatuan semantik yang sama-sama dengan kesatuan-kesatuan lainnya di dalam teks mewujudkan tema , namun suatu kreterium pasti untuk membatasi setiap kreterium tidak dapat diberikan sebab hal ini bergantung pada niat kita, sejauh mana kita ingin menganalisis teks yang bersangkutan.
Motif biasanya bersifat kongkret karena secara langsung dapat disimpulkan dari teks, tetapi teks tidak dengan sendirinya harus dirumuskan secara eksplisit sebab biasanya bersifat abstrak. Tema dapat disimpulkan dari keseluruhan motif dengan menempatkan motif-motif ini di bawah satu pengertian lewat jalan abstraksi. Bila dalam sajak-sajak tampak motif-motif seperti musim rontok, kuburan, atau peralihan, tema yang dapat disimpulkan adalah kematian atau kemunduran sekalipun kata kematian dan kemunduran tidak dijumpai dalam teks. Sebutan motif yang melukiskan perubahan, misalnya suatu peristiwa, disebut dinamik (Luxemurg dkk. 1984:86)