Perkembangan Modal Asing Setelah Tahun 1906

Perkembangan Modal Asing Setelah Tahun 1906

Perekonomian Indonesia mulai membaik menuju ke arah stabil. Apalagi ketika perekonomian pada tahun 1970-an terjadi “krisis minyak dunia” menguntungkan Indonesia karena karena harga minyak dunia melambung tinggi. Hal ini memberikan keuntungan devisa yang berlipat ganda bagi pemerintah Indonesia. Perekonomian Indonesia mulai pulih dan beranjak stabil. Dengan cadangan devisa yang begitu besar, pemerintah berusaha mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang industri. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membangun industri besar-besaran, mengingat selama ini Indonesia hanya berfokus pada bidang pertanian, sedangkan industri belum digarap sungguh-sungguh karena keterbatasan dana.

Untuk membangun industri, pemerintah menerapkan prinsip keterbukaan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia dan ikut serta dalam membangun perekonomian Indonesia. Terlebih lagi setelah Orde Baru berkuasa, keamanan dalam negeri sudah stabil dipandang cocok bagi investor asing sebagai tempat berinvestasi.

Para investor asing menanamkan modalnya di Indonesia dalam berbagai bentuk seperti berikut :

a)      Pertambangan

Pemerintah menjalin kerja sama dengan negara-negara lain agar mau menanamkan modalnya di bidang pertambangan menggali sumber kekayaan Indonesia agar bisa menjadi devisa negara. Tercatat beberapa perusahaan dari Amerika Serikat dan Eropa tertarik membiayai penggalian dan pengolahan barang tambang di Indonesia seperti pertambangan minyak di Aceh oleh Exxon Mobile, pertambangan minyak di Riau oleh Caltex, pertambangan tembaga di Mimika, Papua oleh Freeport Indonesia, dan pertambangan emas oleh Newmont.

b)      Otomotif

Pemerintah juga membuka ketertinggalan di bidang teknologi, pemerintah juga membuka kesempatan kepada pengusaha asing untuk mengembangkan usahanya di bidang otomotif seperti produksi mobil dan motor. Perusahaan asing yang bergerak dibidang ini baru sebatas perakitan mobil dan motor dikarenakan teknologi dan prasarana yang belum endukung di Indonesia.

c)      Barang-barang Elektronik

Setelah tahun 1965, usaha dibidang barang-barang elektronik mengalami perkembangan pesat. Barang-barang elektronik seperti televisi, radio, tape recorder, tidak lagi dikatakan sebagai barang mewah sehingga permintaan terhadap barang-barang tersebut mengalami peningkatan. Untuk itu dibutuhkan perusahaan yang mampu menyuplai peermintaan yang besar. Beberapa perusahaan yang menanamkan modalnya dalam bentuk industri perakitan barang-barang elektronik diantaranya Sony, Sharp, Samsung, dan perusahan-perusahaan lainnya.

d)     Perkebunan

Untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, pemerintah sejak tahun 1965 mulai menggenjot sektor perkebunan, mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa Agraris. Upaya pembukaan perkebunan besar-besaran ini terganjal oleh masalah dana. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah mengundang investor asing untuk menggarap lahan-lahan perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit di Sumatra Utara, perkebunan teh di Jawa Barat, perkebunan tembakau di Sumatra.

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Perang Dingin (1947–1991) adalah sebutan bagi suatu periode terjadinya ketegangan politik dan militer antara Dunia Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya, dengan Dunia Komunis, yang dipimpin oleh Uni Soviet beserta sekutu negara-negara satelitnya. Peristiwa ini dimulai setelah keberhasilan Sekutu dalam mengalahkan Jerman Nazi di Perang Dunia II, yang kemudian menyisakan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai dua negara adidaya di dunia dengan perbedaan ideologi, ekonomi, dan militer yang besar. Uni Soviet, bersama dengan negara-negara di Eropa Timur yang didudukinya, membentuk Blok Timur.

Perang dingin berakhir dengan beberapa faktor sebagai berikut:

1.      Reformasi Gorbachev

2.      Perbaikan hubungan

3.      Goyahnya sistem Soviet

4.      Pembubaran Uni Soviet

Setelah Perang Dingin, Rusia sebagai ahli waris utama Uni Soviet memotong pengeluaran militer secara drastis. Restrukturisasi ekonomi menyebabkan jutaan warga di seluruh Uni Soviet menganggur. Sedangkan reformasi kapitalis mengakibatkan terjadinya resesi parah, lebih parah daripada yang dialami oleh AS dan Jerman selama Depresi Besar.

B.     Saran

Dengan penjelasan mengenai sejarah perang dingin, diharapkan masyarakat mampu mengambil manfaat dan segala hal positif dari peristiwa sejarah tersebut. Hal-hal negatif dari Perang Dingin sebaiknya dihindarkan agar tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Pos-Pos Terbaru

Close
Menu