Riwayat Hidup Singkat

Riwayat Hidup Singkat

          Anselmus lahir di Aosta, Piemont, Italia sekitar tahun 1033. Ia anak dari pasangan Gondolvo dan Ermenberga. Ayahnya seorang politikus dan bangsawan Lombardia, sedangkan ibunya adalah seorang Bugundia yang kaya raya. Pada waktu ia berumur 27 tahun, Anselmus masuk biara Benediktin di Bec, Normandia dekat Rouen, Prancis. Berkat kegemilangan intelektualnya, Anselmus kemudian diangkat menjadi pemimpin biara di Bec menggantikan Lanfranc. Pada tahun 1093, Anselmus diangkat menjadi Askup Agung Canterbury oleh Raja William II.[4]

          Karya penting Anselmus dalam bidang teologi dan inti ajarannya dalam hubungan ratio dan iman, dikenal dengan istilah “Credo ut intelligam” dan beberapa karyanya yang lain adalah “Cur Deus Homo”(mengapa Allah menjadi manusia),  Monologion, dan  Proslogion.[5]

          Dalam karangan-karangannya ia yakin bahwa iman bisa menghantar manusia kepada pengertian atau paham “Fides Quaerens Intellectum”(iman berusaha untuk mengerti). Anselmus dalam pembuktiannya tersebut selalu mengawalinya dari ajaran iman. Dia  juga melukiskan ajarannya yang sangat tajam mengenai pembuktian akan adanya eksistensi Allah. Menurutnya Allah sebagai sesuatu yang lebih besar, selain daripada-Nya  tidak ada yang dapat dipikirkan sebagai yang paling besar (aliquid quo maius nihil cogitari potest). Dengan itu ia berhasil mengajak orang untuk membuktikan imannya dengan rasio. Ia mengakhiri karyanya saat berumur 75 tahun  pada 21 April 1109. [6] 

  1. BuktiEksistensi Allah Menurut Anselmus

            Anselmus mengemukakan argumen tentang ekisistensi Allah dalam karyanya yang dikenal dengan Proslogium. Keberadaan Allah diketahui dan dibuktikan dari ide tentang Allah itu sendiri. Berdasarkan refleksi-rasionalnya, Anselmus sampai kepada kebenaran iman yang sebelumnya sudah dipercayai, bahwa dengan rasio, Kebenaran sebagai sesuatu yang Mutlak, ada dan dapat dibuktikan. Sesuatu yang “ada” ini melampaui “adaan” lainnya, itulah Allah. Hal ini dapat dipikirkan serta dibuktikan oleh akal sehat. Menurut Anselmus manusia  memiliki 2 sumber pengetahuan, yaitu Iman dan akal budi.[7]

Iman menjadi dasar dalam mencari kebenaran. Dalam Proslogium, Anselmus mengungkapkan bahwa berkat imannya ia dapat sampai kepada pengertian akan kebenaran. Menurut Anselmus kita harus percaya terlebih dahulu untuk dapat memperoleh pengertian.[8] Iman adalah titik pangkal spekulasi Anselmus, sebagaimana juga pada Agustinus. “Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan memahaminya”; Anselmus menggarisbawahi perlunya iman. Tetapi itu tidak mengahalangi bahwa, iman yang demikian berusaha mencari pengetahuan, sehigga pada akhirnya dia memahami apa yang semula dipercayai. Di sini yang mau dipahaminya adalah eksistensi dan kodrat Allah.[9]

 

sumber :

https://9apps.id/

Close
Menu