Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Khusus Mengenai Sunnah Rasulullah saw)

 Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Khusus Mengenai Sunnah Rasulullah saw)

Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Khusus Mengenai Sunnah Rasulullah saw)

Sebab-sebab khusus mengenai Sunnah Rasul saw. yang menonjol antara lain: (a) Perbedaan dalam penerimaan hadits; sampai atau tidaknya suatu hadits kepada sebagian sahabat (b) Perbedaan dalam menilai periwayatan hadits (shahih atau tidaknya) (c) Perbedaan mengenai kedudukan Syakhshiyyah Rasul.

a. Perbedaan dalam penerimaan hadits

Seperti dimaklumi, para sahabat yang menerima dan menyampaikan (meriwayatkan) hadits, kesempatannya tidak sama. Ada yang banyak menghadiri majlis Rasul, tentunya mereka inilah yang banyak menerima hadits sekaligus meriwayatkannya. Tetapi banyak pula di antara mereka yang sibuk dengan urusan-urusan pribadinya, sehingga jarang menghadiri majlis Rasul, padahal biasanya dalam majlis itulah Rasul menjelaskan masalah-masalah yang ditanyakan atau menjelaskan hukum sesuatu; memerintah atau melarang dan menganjurkan sesuatu. Contoh mengenai ini adalah sebagai berikut:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَأْمُرُ النَّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُٶُوْسَهُنَّ

“Ibnu ‘Umar memberi fatwa, bahwa bila wanita mandi junub hendaklah membuka (mengudar) sanggul rambutnya agar air sampai ke akar-akar rambut”, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Setelah mendengar fatwa itu, Siti Aisyah ra. Merasa heran dan berkata:

عَجَبًا لاِبْنِ عُمَرَ هٰذَا يَأْمُرُ النَّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُٶُوْسَهُنَّ أَفَلاَ يَاْمُرُ هُنَّ اَنْ يَحْلِقْنَ رُٶُوْسَهُنَّ .

“Sungguh aneh Ibn “Umar ini memerintahkan kaum wanita apabila mereka mandi janabah untuk mengudar sanggul. Jika demikian, apakah tidak lebih baik menyuruh mereka untuk mencukur rambut saja?”
Kemudian Aisyah meriwayatkan hadits mengenai soal itu sebagai berikut:

لَقَدْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَمَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ عَلَى رَأْسِي ثَلاَثَ إِفْرَاغَاتٍ .

“Sungguh aku pernah mandi bersama Rasulullah saw. dari satu bejana dan aku menyiram rambut kepalaku tidak lebih dari tiga siraman.”

b. Perbedaan dalam menilai periwayatan hadits

Adakalanya sebagian ulama memandang periwayatan suatu hadits shahih, sedangkan menurut ulama yang lain tidak, misalnya karena tidak memenuhi semua persyaratan yang telah mereka tentunkan. Penilaian ini meliputi segi sanad, maupun matannya.
Contoh dari segi sanad, adalah seperti hadits yang dijadikan dasar oleh Imam Syafi’i tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi ma’mum dalam shalat:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ صَامِتٍ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: إِنِّيْ أَرَاكُمْ تَقْرَٶُوْنَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ. قَالَ٬ قُلْنَا يَا رَسُوْل اللهِ٬ وَاللهِ٬ قَالَ: لاَ تَفْعَلُوْا إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا (رواه أبو داود).

Dari “Ubadah bin Shamid, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah shalat subuh agak panjang bacaannya, maka setelah selesai shalat, Rasulullah berkata, “Aku memperhatikan kalian membaca di belakang imam.” Kami menjawab, “Ya Rasul, demi Allah memang kami membaca.” Rasulullah berkata, “Janganlah kalian membaca, kecuali Ummul Qur’an (al-Fatihah), karena sesungguhnya tidak sah shalat seseorang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud).
Menurut Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali dalam kitabnya, al-Mughni menyatakan, bahwa hadits Ubadah ini tidak ada yang meriwayatkan kecuali Ibnu Ishaq dan Nafi’ bin Mahmud bin al-Rabi. Sedangkan Ibnu Ishaq adalah Mudallis. Dan Nafi’ lebih rendah lagi (lebih buruk lagi) keadaannya dari Ibnu Ishaq.
Contoh dari segi matan hadits adalah seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ تَرَكَ مَالاً أَوْ حَقًّا فَلِوَرَثَتِهِ وَ مَنْ تَرَكَ كَلاَّ أَوْ عِيَالاً فَإِلَيَّ.

“Barangsiapa meninggalkan harta kekayaan atau hak, maka ia untuk ahli warisnya, dan barangsiapa meninggalkan harta kekayaan tanpa ahli waris (kalalah) atau sebaliknya (meninggalkan ahli waris tanpa harta kekayaan), maka itu adalah tanggunganku.”
Imam Abu Hanifah tidak mengakui adanya kata “hak” ( حقّا) dalam matan hadits tersebut, sehingga beliau tidak memasukkan sebagai tirkah: hak cipta, khiyar, syuf’ah dan sebagainya. Sedang Jumhur Fuqaha’ (Syafi’I, Malik, dan Ahmad bin Hanbal) menetapkan adanya kata “haqqan” dalam hadits tersebut, sehingga mereka memasukkan dalam tirkah: hak cipta, khiyar, syuf’ah dan sebagainya.

Baca Juga: Sholat Rawatib

c. Ikhtilaf tentang kedudukan Rasulullah saw

Sebagaimana dimaklumi, bahwa Rasul di samping keberadaannya sebagai Rasul, juga sebagai manusia biasa (QS, Al-Kahfi: 110). Kadang-kadang beliau bertindak sebagai panglima perang, sebagai kepala Negara dan sebagainya. Karena itu, tindakan dan ucapan yang dilakukan beliau tidak sama kedudukannya, kalau dikaitkan dengan keberadaan pribadinya ketika melakukannya. Misalnya mengenai hadits berikut ini:

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ (رواه الثلاثة).

“Barangsiapa menggarap tanah mati, maka dialah pemiliknya.”
Mengenai hadits ini ulama berbeda pendapat tentang apakah hal itu dinyatakan oleh Rasul dalam kapasitasnya sebagai kepala Negara. Jika demikian, tidak setiap pemilik tanah yang belum ada pemiliknya itu secara otomatis menjadi miliknya, melainkan harus melalui prosedur yang berlaku pada waktu itu dan pada Negara di mana orang itu hidup. Sebaliknya jumhur fuqaha’ yang memandang hadits itu dinyatakan Rasulullah dalam kedudukannya sebagai Rasul, berpendapat bahwa kepemilikan tanah mati itu tidak lagi harus melalui prosedur-prosedur Negara tertentu, tetapi secara otomatis menjadi milik penggarap

Close
Menu