Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Mengenai Qawa’id Ushuliyyah dan Qawa’id Fiqhiyyah)

Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Mengenai Qawa’id Ushuliyyah dan Qawa’id Fiqhiyyah)

Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Mengenai Qawa’id Ushuliyyah dan Qawa’id Fiqhiyyah)

Sebab-sebab perbedaan pendapat yang berkaitan dengan kaidah-kaidah ushul

di antaranya adalah mengenai istitsna’ (pengecualian) yakni: apakah istitsna’ yang terdapat sesudah beberapa jumlah yang di’athafkan satu sama lainnya, kembali kepada semuanya ataukah kepada jumlah terakhirnya saja?
Jumhur fuqaha’ berpendapat, bahwa istitsna’ itu kembali kepada keseluruhannya. Sedang menurut Abu Hanifah, istitsna’ itu hanya kembali kepada yang terakhir saja.

Perbedaan kaidah ini jelas sekali pengaruhnya dalam menafsirkan firman Allah SWT.

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nûr: 4).
Dari ayat di atas, dapat disimpulkan, bahwa hukuman bagi orang yang menuduh zina tanpa membuktikan dengan empat orang saksi, adalah sebagai berikut:

a. Dera delapan puluh kali
b. Dicabut haknya untuk menjadi saksi apapun
c. Orang itu dinyatakan fasik

Kemudian datang istitsna’ bagi orang-orang yang bertaubat, yaitu pada ayat berikutnya:
“Di hari itu, Allah akan memberi mereka Balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (QS. An-Nûr: 25).
Bagi yang berpendapat bahwa istitsna’ itu kembali kepada jumlah terakhir saja, maka bila orang itu telah bertaubat, tidak lagi dinyatakan fasik, dan tetap harus dikenakan dera serta belum bisa dijadikan saksi. Adapun pendapat kedua, yang menyatakan istitsna’ kembali kepada semuanya, orang yang sudah bertaubat itu tidak lagi dinyatakan fasik, dan juga dikembalikan haknya untuk menjadi saksi, tetapi masih tetap dihukum dera, kerena hukuman dera ini menyangkut hak ‘adami (manusia) yang tidak bisa digugurkan dengan taubat.

Adapun sebab-sebab perbedaan pendapat (ikhtilaf) yang berkaitan dengan kaidah-kaidah fiqhiyah contohnya antara lain sebagai berikut:
Madzab Syafi’i menggunakan kaidah:

الأَصْلُ فِيْ الأَشْيَاءِ لإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Hukum yang terkuat dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkannya.
Sedangkan menurut kaidah dalam madzab Hanafi adalah:

الأَصْلُ فِيْ الأَشْيَاءِ التَّحْرِيْمُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى لإِبَاحَةِ

Hukum yang terkuat dari segala sesuatu adalah haram, sehingga ada dalil yang menunjukkan kebolehannya.
Jadi menurut madzab Syafi’i, asal hukum sesuatu adalah dibolehkan mengerjakannya, sehingga ada dalil yang mengharamkannya atas dasar bahwa Allah SWT telah berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِيْ الأَرْضِ جَمِيْعًا

“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 49).
Dan Sabda Nabi saw.:

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَا أَحَلَّ اللهُ فَهُوَ حَلَالٌ وَ مَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَ مَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ فَاقْبَلُوْا مِنَ اللهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ يَنْسَى شَيْئًا (أخرجه البزار والطبر اني)

“Apa yang telah dihalalkan oleh Allah adalah halal dan apa yang telah diharamkan Allah adalah haram serta apa yang didiamkan oleh Allah adalah dimaafkan, maka terimalah kemaafan dari Allah itu, sesungguhnya Allah tidak akan lupa pada sesuatu.”
Sedangkan madzab Hanafi berpendapat bahwa asal hukum sesuatu adalah haram, sehingga ada dalil yang membolehkannya, kebalikan dari pendapat madzab Syafi’i bahwa asal sesuatu adalah boleh, sehingga ada dalil yang mengharamkannya. Hal seperti ini dapat menimbulkan perbedaan dalam menetapkan hukum.

Baca Juga:

 

Close
Menu