Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Pemahaman Al-Qur’an)

Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Pemahaman Al-Qur’an)

Sebab-sebab Terjadinya Ikhtilaf (Perbedaan Pemahaman Al-Qur’an)

Sebab-sebab terjadinya ikhtilaf dalam penetapan hukum Islam adalah sebagai berikut:

1. Perbedaan Pemahaman Al-Qur’an Perbedaan para ulama dalam memahami Al-Qur’an, di antaranya disebabkan oleh:

a. Lafadz Musytarak

Musytarak adalah satu lafadz tetapi mempunyai arti yang banyak dan berbeda-beda. Contoh lafadz musytarak yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an seperti:
Lafal (القرء) dalam firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 228, yang berbunyi:
“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah: 228).
Kata quru’ dapat diartikan suci dan haid. Imam Syafi’i mengambil arti suci dan Imam Hanafi mengambil arti haid.[3]
Firman Allah اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآْءَ /Aulaamastumun Nisa’ (atau kamu menyentuh/bersetubuh dengan perempuan).
Menurut Imam Hanafi, laamastum artinya bersetubuh, sebab itu tidak batal menyentuh perempuan, meskipun ajnabiyah.
Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hambali, laamastum artinya menyentuh, sebab itu batal wudhu dengan menyentuh perempuan. Tetapi Syafi’i berpendapat, bahwa yang membatalkan wudhu ialah menyentuh perempuan ajnabiyah (bukan mukhrim). Menyentuh perempuan, seperti ibu atau anak perempuan sendiri tidak membatalkan wudhu. Sedangkan menurut Maliki dan Hambali, menyentuh perempuan membatalkan wudhu kalau disentuh dengan syahwat. Tetapi kalau tidak dengan syahwat, maka tidak batal wudhu itu.

Menurut Adh-Dhohiri (madzab kelima) menyentuh perempuan membatalkan wudhu, meskipun ibu sendiri atau anak sendiri karena mereka termasuk perempuan juga menurut lahirnya lafadz An-Nisa’ (perempuan).

Dengan contoh itu dapatlah kita ketahui bahwa meskipun kelima madzab itu sepakat tentang dalil firman Allah: Aulaamastumun Nisaa’ tetapi mereka itu berlainan pendapat tentang tafsirannya dan mengistimbathkan hukum dari padanya, sehingga terjadi empat pendapat:
1) Menurut Imam Syafi’i, menyentuh perempuan ajnabiyah membatalkan wudhu, dan menyentuh perempuan mukhrim tidak membatalkan wudhu.
2) Menurut Maliki dan Hambali, menyentuh perempuan membatalkan wudhu, kalau disentuh dengan syahwat baik mukhrim atau ajnabiyah. Menyentuh perempuan dengan tiada syahwat tidak membatalkan wudhu.
3) Menurut Imam Zuhri, menyentuh perempuan membatalkan wudhu, baik mukhrim atau ajnabiyah.

Baca Juga: nama Bayi perempuan islam

b. Amar dan Nahi

Para ulama juga berbeda pendapat dalam memahami arti amar (perintah) dan nahi (larangan) baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah. Sebagai contohnya di dalam Sabda Rasulullah yang berbunyi:

يَا مَعْشَرَ ااشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ . (رواه البخار و مسلم عن عبدالله ابن مسعود)

“Wahai para pemuda, barang siapa dari kamu yang kuasa berumah tangga, maka hendaklah kawin.” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah Ibnu Mas’ud).
Jumhur Ulama memahami makna perintah untuk kawin dalam hadits ini maksudnya adalah sunah, sedangkan Daud Adh-Dhohiri memahaminya wajib.

c. Makna hakekat dan majaz

Kadang-kadang lafadz itu menerima dua makna, hakekat dan majaz, seperti lafadz ‘am apabila dikehendaki khas, dan lafadz khas apabila dikehendaki ‘am.
Seperti dalam sabda Rasulullah saw. yang berbunyi:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّبِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِاالشَّعِيْرِ وَالتَّمَرُ بِالتَّمَرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مَثَلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ . (رواه مسلم)

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, yang sama dengan yang sama, serupa dengan serupa, tangan dengan tangan.” (HR. Muslim dar Ubaidah bin Samit).
Daud zahiri memahami hadits tersebut khusus, yang artinya dilarang berjual beli riba hanya terbatas pada benda-benda yang disebutkan dalam hadits itu saja, tetapi jumhur Fuqaha memasukkan benda-benda lain lagi yang ada persamaannya dengan benda-benda yang disebutkan dalam hadits tersebut

Close
Menu