Syarat Alat Evaluasi

Syarat Alat Evaluasi

Syarat Alat Evaluasi

 Syarat Alat Evaluasi
Syarat Alat Evaluasi

  Sebuah instrumen evaluasi hasil belajar hendaknya memenuhi syarat sebelum di gunakan untuk mengevaluasi atau mengadakan penilaian agar terhindar dari kesalahan dan hasil yang tidak valid (tidak sesuai kenyataan sebenarnya). Alat evaluasi yang kurang baik dapat mengakibatkan hasil penilaian menjadi bias atau tidak sesuainya hasil penilaian dengan kenyataan yang sebenarnya, seperti contoh anak yang pintar dinilai tidak mampu atau sebaliknya.

Jika terjadi demikian perlu ditanyakan apakah persyaratan instrumen yang digunakan menilai sudah sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan instrumen.

Instrumen Evaluasi yang baik memiliki ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain :

  1. Reliabilitas, secara sederhana reliabilitas berati hal tahan uji atau dapat dipercaya. Sebuah alat evaluai dipandang reliabel atau tahan uji, apabila memiliki konsistensi atau keajekan hasil. Artinya, apabila alat itu diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan prestasi “X”, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “X” itu dapat pula dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama pada waktu yang lain.
  2. Validitas. Pada prinsipnya, validitas (validity) berarti keabsahan atau kebenaran. Sebuah alat evaluasi dipandang valid (absah) apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Contohnya, apabila sebuah alat evaluasi bertujuan mengukur prestasi belajar matematika, maka item-item (butir-butir soal) dalam alat itu hendaknya hanya direkayasa untuk mengukur kemampuan matematis para siswa. Kemampuan-kemampuan lainnya yang tidak relevan, seperti kemampuan dalam bidang bahasa, IPS, dan sebagainya tidak perlu diukur oleh instrumen evaluasi matematika tersebut.

Persyaratan lain seperti objektif, diskriminatif, dan sebagainya dikemukakan oleh kebanyakan penyusun buku psikologi pendidikan , mengingat secara implisit, telah termasuk dalam dua macam syarat di atas.

Mengenai uraian pembahasan di atas terdapat beberapa tanggapan berkaitan dengan syarata alat evaluasi dari segi validitasnya yaitu Pertanyaan untuk validity timbul apabila suatu test mengukur terlalu sempit satu aspek dari kemampuan, atau waktu mengukur kualitas yang berbeda dari kualitas yang berbeda dari keahlian atau pembawaan. Dengan kata lain validity bergantung pula pada bagaimana test dilaksanakan dan bagaimana test ditafsirkan.

Hal-hal yang sangat penting untuk dikerjakan adalah untuk mendidik guru-guru dalam menggunakan test. Hal penting lainnya ialah untuk memperbaiki test-test standar yang ada supaya lebih reliable dan lebih valid. Walter N. Durost: Banyak bukti yang menyatakan bahwa hasil-hasil dari test seringkali dikacaukan oleh pengadministrasian yang buruk yang disebabkan oleh persiapan yang kurang teliti. Sebagian dari jawaban persoalan ini terletak dalam persoalan-persoalan melakukan latihan dan sebagian lagi ialah soal sikap dari orang-orang administratif.

Jadi ternyata bahwa persoalan test validity tak seluruhhnya memajukan testnya. Juga tersangkut persoalan-persoalan lain seperti perkembangan pemeliharaan dari moral diantara guru-guru dan perkembangan hubungan demokrasi antara guru-guru dan pegawai administrasi. Dari apa yang dikatakan Durost terbukti bahwa guru-guru membutuhkan suatu latihan dalam menggunakan test, tetapi apabila keputusan untuk membuat latihan semacam itu tanpa bantuan guru-guru sedikit sekali hasil-hasil praktis akan tercapai.

Sumber :

Close
Menu