Teori Motivasi Berdasarkan Keadilan

Teori Motivasi Berdasarkan Keadilan

Teori Motivasi Berdasarkan Keadilan
Teori Motivasi Berdasarkan Keadilan

 

Teori motivasi berdasarkan keadilan dikemukakan oleh Porter dan Lawler

( Handoko, 2003) yang mendasarkan pada anggapan bahwa seseorang bersedia melakukan sesuatu kalau diperlakukan secara adil. Orang yang membandingkan antara masukan-masukan yang diberikan kepada pekerjaanya dalam bentuk pendidikan, pengalaman, pelatihan dan usahanya dengan kompensasi atau penghargaan yang mereka terima. Orang juga membandingkan imbalan yang diperoleh orang lain dengan yang diperoleh untuk dirinya sendiri dalam pekerjaan yang sama. Dengan demikian suatu kewajaran kalau sering terjadi suatu tindakan unjuk rasa yang dilakukan oleh karyawan, yang disebabkan karena tidak terpenuhinya rasa keadilan ini.

Menurut Handoko (2003)

bahwa teori motivasi berdasarkan keadilan ini didasarkan pada empat tahap proses pembentukan persepsi keadilan, yaitu: (1) penilaian tehadap diri sendiri (evaluation of self), (2) penilaian terhadap orang lain (evaluation of others), (3) perbandingan diri sendiri dengan orang lain (comparison of self with others), dan (4) merasakan keadilan dan ketidak adilan (feeling of equaty on in equity). Proses pembentukan persepsi keadilan tersebut dapat di uraikan sebagai berikut: (1) individu menilai dirinya sendiri bagaimana diperlakukan oleh pemimpin, (2) disamping menilai dirinya sendiri, seseorang juga mengembangkan suatu penilaian, sebagai orang lain diperlakukan oleh pimpinan.

 

Perbandingan dengan orang lain

 

ini bisa saja dalam organisasi yang sama ataupun dengan orang lain yang ada pada bagian yang lain dari organisasi tersebut, (3) setelah menilai perlakukan pimpinan terhadap dirinya sendiri dan perlakuannya terhadap orang lain seseorang akan membandingkan keduanya. Artinya seorang akan melihat lingkungannya sendiri dengan menghubungkan dengan situasi dengan orang lain

 

Sebagai akibat dari perbandingan

itu seseorang akan merasakan keadilan atau ketidakadilan. Keyakinan tehadap rasa keadilan itu ataupun rasa ketidakadilan itu dalam memberi penghargaan terhadap seseorang, akan mempengaruhi perilaku yang dilakukan dalam suatu organisasi. Sudah barang tentu hal ini akan mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.