Teori Motivasi Berdasarkan Kepuasan

Teori Motivasi Berdasarkan Kepuasan

 Teori Motivasi Berdasarkan Kepuasan

 Teori Motivasi Berdasarkan Kepuasan
Teori Motivasi Berdasarkan Kepuasan

Teori motivasi berdasarkan kepuasan

ini dikemukakan oleh Herzberg (Supardi dan Anwar, 2002) yang disebut dengan the motivation higiene theory atau disebut dengan teori dua faktor. Berdasarkan teori ini, motivasi akan timbul apabila seseorang mendapatkan kepuasan dalam pekerjaanya. Bukanlah yang menyebabkan seseorang termotivasi untuk bekerja, akan tetapi karena kebutuhannya terpenuhi, akan memperoleh kepuasan dalam bekerja. Kepuasan ini yang mendorong seseorang untuk berkerja lebih bergairah dan bersemangat dalam mencapai tujuan. Kepuasan kerja merupakan refleksi dari motivasi dan produktifitas kerja, sedangan ketidakpuasan merupakan sebaliknya, tidak terdapat motivasi dan produktifitas kerja (Winardi, 2004). Teori ini terkenal dengan teori dua faktor karena ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu motivation factor dan Hygiene factor (Supardi dan Anwar, 2002). Motivation factor adalah faktor yang dapat menyebabkan kepuasan (satisfaction). Faktor pendorong merupakan faktor penyebab kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan keseluruhan sikap positif seseorang pekerjanya (Supardi dan Anwar, 2002). Ada lima faktor penyebab kepuasan kerja seseorang yaitu prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, dan kenaikan pangkat. Sedangkan faktor penyehat terdiri dari: gaji, peluang untuk berkembang, hubungan dengan bawahan, hubungan dengan teman pekerja, teknik supervisi, kebijakan dan administrasi, kondisi kerja, kehidupan pribadi dan kemanan kerja (Herzberg dalam Thoha, 2004).

Faktor pendorong, merupakan faktor

yang beroperasi untuk meningkatkan kepuasan kerja, sedangkan faktor penyehat merupakan faktor yang bekerja untuk menimbulkan ketidakpuasan kerja (Herzberg dalam Winardi, 2004). Adanya pengurangan dari faktor pendorong (motivatin factor) tidak mengakibatkan munculmnya ketidakpuasan kerja dan dilain pihak adanya peningkatan faktor ketidakpuasan dan cenderung untuk mengurangi ketidakpuasan kerja. Walaupun ada penambahan dalam faktor-faktor ini, ternyata tidak mendorong kepuasan kerja para karyawan.

Harapan adalah

suatu ksesempatan yang diberikan terjadi karena prilaku mempunyai nilai yang berkisar dari nol yang menunjukan tidak ada kemungkinan bahwa sesuatu hasil akan mucul sesudah perilaku atau tindakan tertentu, sampai angka positif. Menunjukan kepastian bahwa hasil tertentu akan mengikuti suatu tindakan perilaku. Harapan dinyatakan dalam probabilitas persatuan (instrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengan hasil kedua. Motivasi nilai besarnya akan mengarah pada semua kekuatan paling besar adalah tindakan yang paling mungkin dilakukan. Kemampuan adalah menunjukan potensi seseorang untuk melaksanakan pekerjaan seseorang, yang berhubugan erat dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan. Teori harapan menjelaskan proses di mana orang menentukan pilihan motivasinya atas dasar imbalan yang bakal diterima, hubungan antara kinerja dan imbalan serta harapan untuk mencapai hasil.

Berdasarkan urain di atas dapat diambil kesimpulan

bahwa faktor yang mendorong seseorang guru untuk melakukan tugas dengan baik, dapat berupa jaminan fisik, jaminan ekonomi, pengakuan, status, prestasi, dan pengalaman-pengalaman baru. Dengan demikian timbul kepuasan kerja yang membawa dampak positif kearah tercapainya tujuan bersama yaitu tujuan sekolah. Motivasi kepemimpinan mengarahkan pada hal-hal yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mempengaruhi bawahan kearah tercapainya tujuan sekolah. Dalam mempengaruhi kegiatan ini tidak cukup hanya mengandalkan wibawa yang mereka miliki, memotivasi kerja guru untuk memeriksa seluruh daya pergerakan atau pendorong yang menimbulkan adanya keinginan untuk menaklukan kegiatan atau aktifitas dalam menjalankan tugas sebagai tenaga teknis yang dilakukan secara prima dan sistematis dan berulang-ulang, kontinyu, dan progesif untuk mencapai tujuan. Tenaga pendorong atau daya penggerak seperti yang diungkapkan pada teori-teori di atas yaitu: (1) motif merupakan dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan tertentu, (2) harapan merupakan keyakinan perbuatan akan mencapai tujuan baik secara formal maupun secara non formal, (3) insentif merupakan keadaan yang membangkitkan kekuatan dinamis manusia.
Mengkaji berbagai teori motivasi sebagaimana yang dikemukakan para ahli tersebut di atas dalam kontek sekolah adalah tugas kepala sekolah untuk berusaha agar para guru mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka. Pada hakekatnya tingkah laku manusia merupakan tingkah laku yang sadar tujuan, artinya tingkah laku yang di dorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan yang berguna untuk kehidupannya. Oleh karena itu peranan motivasi dalam manajemen sangat penting. Motivasi adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dan dorongan (Hersey & Balnchard, 1978). Motivasi seseorang ditentukan oleh motifnya. Permaslahannya yang paling penting bagi kepala sekolah adalah bagaimana dapat menumbuhkan motivasi para guru disekolahnya.